BAB I
PERTOLONGAN PERTAMA
Pengertian Pertolongan Pertama :
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera/kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar.
Pengertian Medis Dasar :
Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam atau awam yang terlatih khusus.
Pelaku Pertolongan Pertama :
Adalah orang yang pertama kali tiba ditempat kejadian, yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar.
Tujuan Pertolongan Pertama :
a. Menyelamatkan jiwa penderita
b. Mencegah cacat
c. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
Pelanggaran tentang orang yang perlu ditolong diatur dalam Pasal 531 KUHP :
“Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang didalam keadaan bahaya maut, lalai memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapat diberikannya atau diadakannya dengan tidak akan menguatirkan, bahwa ia sendiri atau orang lain akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,- Jika orang yang perlu ditolong itu mati, diancam dengan KUHP 45, 165, 187, 304s, 478, 525, 566”.
Pelaku Pertolongan Pertama harus menjaga kerahasiaan penderita yang ditolongnya diatur dalam Pasal 322 KUHP :
1. Barang siapa dengan sengaja membuka sesuatu rahasia yang wajib menyimpannya oleh karena jabatan atau pekerjaannya baik yang sekarang, maupun yang dahulu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan bulan atau dengan denda sebanyak-banyaknya sembilan ribu rupiah.
2. Jika kejahatan itu dilakukannya tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.
Pelaku pertolongan pertama sebaiknya menggunakan alat perlindungan diri yang berguna untuk melindungi diri dari kemungkinan kontaminasi atau penularan penyakit yang mungkin terdapat pada korban, beberapa macam alat perlindungan diri yang mudah didapat antara lain :
1. Sarung tangan latex
2. Masker
3. Kacamata pelindung
4. Baju pelindung
5. Masker Resusitasi
6. Helm
Selain itu tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara :
1. Mencuci tangan dengan air mengalir sebelum & setelah melakukan pertolongan
2. Membersihkan alat – alat dengan jalan :
a. Mencuci dengan air & sabun
b. Desinfeksi
c. Sterilisasi
3. Bersihkan tempat kejadian dan sekitarnya
4. Buanglah penutup, pembalut dan sarung tangan serta pakaian kotor ditempat yang tertutup dengan benar.
BAB II
ANATOMI DAN FAAL DASAR
Anatomi :
Adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh dan bentuk tubuh atau juga dikenal dengan ilmu urai.
Fisiologi (Faal Tubuh) :
Adalah ilmu yang mempelajari faal (fungsi) bagian dari alat atau jaringan tubuh.
Terminologi Anatomi :
- Posisi anatomi adalah posisi khayal saat penolong melaporkan keadaan luka
- Posisi berdiri tegak menghadap depan dengan kedua telapak tangan menghadap ke depan
Bidang Anatomi :
- Bidang Medial : Bidang khayal yang membagi tubuh menjadi kanan dan kiri
- Bidang Frontal : Bidang khayal yang membagi tubuh menjadi depan dan belakang
- Bidang Transversal : Bidang khayal yang membagi tubuh menjadi atas dan bawah
Alat Gerak :
Alat gerak terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alat gerak atas yang terdiri dari lengan atas & lengan bawah, dan alat gerak bawah yang terdiri dari tungkai atas dan tungkai bawah
Bagian Tubuh :
1. Kepala, terdiri dari : Tengkorang – wajah - rahang bawah
2. Leher
3. Batang tubuh, terdiri dari : Dada – Perut – Punggung – Panggul
4. Anggota gerak atas, terdiri dari : Sendi Bahu – Lengan atas – Siku – Lengan bawah – Pergelangan tangan – Tangan
5. Anggota gerak bawah, terdiri dari : Sendi panggul – Tungkai atas – Lutut – Tungkai bawah – Pergelangan kaki – Kaki
Rongga Tubuh :
Rongga tubuh manusia terdiri dari :
1. Rongga Tengkorak, berfungsi melindungi otak
2. Rongga tulang belakang, berfungsi melindungi bumbung syaraf / spinal cord
3. Rongga Dada, berfungsi melindungi jantung dan paru-paru
4. Rongga Perut, berfungsi melindungi organ dalam perut
5. Rongga Panggul, berfungsi melindungi organ kemaluan
Rongga Perut :
Rongga perut berisi berbagai macam organ yang berkaitan dengan pencernaan, selain itu juga terdapat organ yang penting untuk membantu metabolisme tubuh.
Untuk memudahkan penilaian rongga perut dibagi menjadi 4 kwadran, yaitu :
1. Kwadran kanan atas, berisi hati, empedu, pankreas, dan usus
2. Kwadran kiri atas, berisi lambung, limpa dan usus
3. Kwadran kanan bawah, berisi organ usus termasuk usus buntu (appendiks)
4. Kwadran kiri bawah, berisi organ usus dan pembuluh darah
BAB III
P E N I L A I A N
Tindakan penilaian terbagi dalam langkah-langkah sebagai berikut :
1. Penilaian Keadaan
2. Penilaian Dini
3. Pemeriksaan Fisik
4. Riwayat Penderita
5. Pemeriksaan Berkala atau Lanjutan
6. Pelaporan
• Penilaian Keadaan
1. Keselamatan semua
2. Memperkenalkan diri, bila memungkinkan
3. Mekanisme cedera
4. Mengenali cedera & bertindak
5. Stabilkan & pantau
6. Minta bantuan
• Penilaian Dini (KRABC)
1. Kesan umum
2. Respon / Kesadaran
- A : Awas (Penderita sadar penuh dan mengetahui keberadaannya)
- S : Suara (Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara)
- N : Nyeri (Penderita hanya bereaksi terhadap rangsangan nyeri)
- T : Tidak Respon (Penderita tidak bereaksi terhadap rangsangan apapun)
3. Airway
- TDAD : Tekan – Dahi – Angkat – Dagu
4. Breathing
- LDR : Lihat – Dengar - Rasakan
5. Circulation
- Nilai nadi
- Perdarahan besar
- Kulit
6. Laporan / bantuan
• Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan : Kepala – Leher – Dada – Perut – Panggul – Alat gerak
Melakukan pemeriksaan dan perabaan untuk mencari :
- P : Perubahan bentuk
- L : Luka Terbuka
- N : Nyeri tekan
- B : Bengkak
Melakukan pemeriksaan tanda vital :
- Nadi : Frekuensi, kuat/lemah, teratur/tidak
- Nafas : Frekuensi, mudah/sesak, otot bantu
- Kulit : Kebiruan – Pucat – Kemerahan – Kekuningan - Biru kehitaman
- Suhu : Suhu normal 370C
- Tekanan Darah : Sistolik (100-140 mmHg)/Diastolik (60-90 mmHg)
• Riwayat Penderita
- K : Keluhan utama
- O : Obat-obatan yang diminum
- M : Makanan / minuman terakhir
- P : Penyakit yang diderita
- A : Alergi yang dialami
- K : Kejadian
• Pemeriksaan Berkala / Lanjutan
- Ulang penilaian dini
- Ulang pemeriksaan fisik sesuai kebutuhan
- Periksa perawatan
- Tenangkan penderita
Pada penderita stabil lakukan setiap 15 menit & pada penderita tidak stabil lakukan setiap 5 menit
• Pelaporan
- Umur & jenis kelamin
- Keluhan utama
- Tingkat respon / kesadaran
- Kondisi Airway & Breathing
- Kondisi Circulation
- Temuan pemeriksaan fisik
- Riwayat KOMPAK yang penting
- Tindakan perawatan yang sudah diberikan
BAB IV
BANTUAN HIDUP DASAR
&
RESUSITASI JANTUNG PARU-PARU
Kondisi dimana penderita mengalami sumbatan jalan nafas, tidak ditemukan adanya nafas dan atau nadi tidak teraba, maka penolong harus segera melakukan Bantuan Hidup Dasar.
Sistem Pernafasan dan Sirkulasi
Sistem pernafasan memasok oksigen (O2) ke tubuh sesuai dengan kebutuhan dan juga mengeluarkan karbondioksida (CO2)
Komponen-komponen yang berhubungan dengan sirkulasi adalah :
- Jantung
- Pembuluh darah (Arteri, Vena & Kapiler)
- Darah & bagian-bagiannya
Jantung dapat berhenti bekerja karena banyak sebab, antara lain :
- Penyakit Jantung
- Gangguan Pernafasan
- Syok
- Komplikasi penyakit lain
MATI :
- Mati Klinis
Tidak ditemukan adanya pernafasan dan denyut nadi, bersifat reversible, penderita hanya memiliki waktu 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak
- Mati Biologis
Kematian sel dimulai terutama sel otak dan bersifat irreversible, biasa terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung
Beberapa tanda yang dapat dijadikan pedoman sudah terjadinya kematian :
- Lebam Mayat, terjadi 20-30 menit setelah kematian
- Kaku Mayat, terjadi antara 1-2 jam setelah kematian
- Pembusukan, terjadi setelah 6-12 jam setelah kematian
- Tanda lainnya : Cedera mematikan
Penderita BHD mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam “Rantai Penyelamatan / Rantai Survival” dilakukan bersamaan :
1. Kecepatan dalam permintaan bantuan (SPGDT)
2. Resusitasi Jantung Paru
3. Defibrilasi (Kejut jantung dengan listrik)
4. Pertolongan Hidup Lanjut (Advance Cardiac Life Support)
Ada beberapa teknik untuk memberikan bantuan pernafasan, yaitu :
a. Menggunakan mulut penolong :
1. Mulut ke masker RJP
2. Mulut ke APD
3. Mulut ke mulut/hidung
b. Menggunakan alat bantu : Kantung Masker Berkatup (Bag Valve Mask/BVM)
Frekuensi Pemberian Nafas Buatan :
Dewasa : 10–12x pernafasan/menit, masing-masing 1,5 - 2 detik
Anak ( 1-8 Th ) : 20x pernafasan/menit, masing-masing 1 – 1,5 detik
Bayi (0-1 Th) : Lebih dari 20x pernafasan/menit, masing-masing 1 – 1,5 detik
Bayi baru lahir : 40x pernafasan/menit, masing-masing 1 – 1,5 detik
Resusitasi Jantung Paru :
Dewasa : Rasio 15 : 2 per siklus ( penolong 1 orang )
Rasio 5 : 1 per siklus ( penolong 2 orang )
Anak / Bayi : Rasio 5 : 1 per siklus
BAB V
PERDARAHAN DAN SYOK
PERDARAHAN :
Rusaknya dinding pembuluh darah karena disebabkan oleh ruda paksa (trauma) atau penyakit.
Klasifikasi :
1. Perdarahan luar (Terbuka)
- Perdarahan Nadi (Arteri)
- Perdarahan Balik (Vena)
- Perdarahan Rambut (Kapiler)
2. Perdarahan dalam (Tertutup)
Penanganan Perdarahan Luar :
1. Tekanan Langsung, tekan bagian yang berdarah tepat diatas luka langsung
2. Elevasi (dilakukan bersamaan dengan Tekanan Langsung), tinggikan anggota badan yang beradarah lebih tinggi dari jantung
3. Titik Tekan, menekan pembuluh nadi diatas daerah yang mengalami perdarahan
4. Cara lain yang dapat membantu menghentikan perdarahan
a. Immobilisasi dengan atau tanpa bidai
b. Torniket (hanya sebagai alternatif terakhir)
c. Kompres dingin
Penanganan Perdarahan Dalam :
1. Baringkan penderita
2. Periksa dan pertahankan ABC
3. Berikan oksigen bila ada
4. Periksa pernafasan dan nadi secara berkala
5. Rawat sebagai syok
6. Jangan memberikan makan atau minum
7. Jangan lupa menangani cedera atau lukan lainnya
8. Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat
SYOK :
Keadaan dimana system peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan darah yang mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke organ vital (terutama otak, jantung & paru-paru) atau disebut hipoperfusi.
Penyebab :
1. Kegagalan jantung memompa darah
2. Kehilangan darah dalam jumlah besar
3. Pelebaran pembuluh darah (dilatasi) yang luas sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik
Tanda Syok:
1. Nadi cepat dan lemah
2. Nafas cepat dan dangkal
3. Kulit pucat, dingin dan lembab
4. Terlihat sianosis pada bibir, lidah dan cuping telinga
5. Manik mata melebar
6. Perubahan keadaan mental
Gejala Syok :
1. Mual, mungkin disertai muntah
2. Hasu
3. Lemah
4. Pusing (Vertigo)
5. Tidak nyaman dan takut
Penanganan Syok :
1. Bawa penderita ke tempat teduh dan aman
2. Tidurkan terlentang, tungkai ditinggikan 20-30 cm (bila tidak ada kecurigaan patah tulang belakang atau tungkai)
3. Pakaian penderita dilonggarkan
4. Cegah kehilangan panas tubuh dengan memberi selimut
5. Tenangkan penderita
6. Pastikan jalan nafas dan pernafasan baik
7. Kontrol perdarahan dan rawat cedera bila ada
8. Berikan oksigen sesuai protokol bila ada
9. Jangan beri makan dan minum
10. Periksa tanda vital secara berkala
11. Rujuk ke fasilitas kesehatan
BAB VI
CEDERA JARINGAN LUNAK
Cedera jaringan lunak / luka :
Terputusnya keutuhan jaringan lunak baik diluar maupun didalam tubuh
Klasifikasi :
1. Luka terbuka
- Luka lecet - Avulsi (sobek)
- Luka sayat / iris - Amputir (amputasi)
- Luka robek - Cedera remuk
- Luka tusuk
2. Luka tertutup
- Memar
- Hematoma
- Cedera remuk
Fungsi Penutup Luka :
1. Membantu mengendalikan perdarahan
2. mencegah kontaminasi lebih lanjut
3. Mempercepat penyembuhan
4. Mengurangi nyeri
Fungsi Pembalut :
1. Penekanan untuk menghentikan perdarahan
2. Mempertahankan penutup luka pada tempatnya
3. Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera
Beberapa Jenis Pembalut :
1. Pembalut pita (gulung)
2. Pembalut segitiga (mitela)
3. Pembalut tabung (tubuler)
4. Pembelut penekan
Perawatan Luka Terbuka :
1. Pastikan daerah luka terlihat
2. Bersihkan daerah sekitar luka
3. Kontrol perdarahan bila ada
4. Lakukan penatalaksanaan syok pada luka-luka yang parah
5. Cegah kontaminasi lanjut
6. Beri penutup luka dan balut
7. Baringkan penderita bila kehilangan banyak darah dan lukanya cukup parah
8. Tenangkan penderita
9. Rujuk ke fasilitas kesehatan
BAB VII
CEDERA SISTEM OTOT RANGKA
• PATAH TULANG (FRACTURE)
Terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja
Penyebab :
1. Gaya langsung
2. Gaya tidak langsung
3. Gaya Puntir
Klasifikasi :
1. Patah tulang tertutup (close fracture)
2. Patah tulang terbuka (open fracture)
Gejala dan Tanda :
1. Perubahan bentuk
2. Nyeri dan kaku
3. Terdengar suara berderik pada daerah yang patah
4. Pembengkakan
5. Memar
6. Ujung tulang terlihat
7. Sendi terkunci
8. Gangguan peredaran darah dan persyarafan
9. Periksa GSS pada bagian distal, sering terjadi mati rasa dan kelumpuhan pada daerah distal cedera
• DISLOKASI / CERAI SENDI
Keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi atau keluarnya ujung tulang dari sendinya
Penyebab :
Sendi teregang melebihi batas, sehingga kedua ujung tulang menjadi terpisah
Gejala dan Tanda :
Sama dengan patah tulang, hanya terbatas pada pada daerah sendi
• TERKILIR OTOT (STRAIN)
Robek/putusnya jaringan ikat sekitar sendi karena sendi teregang melebihi batas
Penyebab :
Terpeleset, gerakan yang salah, sehingga sendi teregang melebihi batas normal
Gejala dan Tanda :
1. Nyeri bengkak
2. Bengkak
3. Nyeri tekan
4. Warna kulit merah kebiruan
• TERKILIR SENDI (SPRAIN)
Robeknya jaringan otot pada bagian tendon (ekor otot) karena teregang melebihi batas normal
Penyebab :
Umumnya terjadi karena pembebanan secara tiba-tiba pada otot tertentu, karena :
a. Latihan peregangan tidak cukup
b. Latihan peregangan tidak benar
c. Teregang melebihi kemampuan
d. Gerakan yang tidak benar
Gejala dan Tanda :
1. Nyeri yang tajam dan mendadak pada daerah otot tertentu
2. Nyeri menyebar keluar disertai kejang dan kaku atau kaku otot
3. Bengkak pada daerah cedera
• PEMBIDAIAN
Tujuan :
1. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah
2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar tulang yang patah
3. Memberikan istirahat pada anggota tubuh yang patah
4. Mengurangi rasa nyeri
5. Mempercepat penyembuhan
6. Mengurangi perdarahan
Jenis Bidai :
1. Bidai keras (ex. bidai kayu, bidai tiup, bidai vakum)
2. Bidai yang dapat dibentuk (ex. bidai vakum, bantal, selimut, karton, kawat)
3. Bidai Traksi (bidai jadi & bervariasi bentuknya sesuai pembuatannya)
4. Gendongan/Blat dan Bebat (ex. Gendongan lengan)
5. Bidai Improvisasi (ex. Majalah, Koran, karton)
BAB VIII
CEDERA KEPALA, LEHER, TULANG BELAKANG DAN DADA
( TIDAK UNTUK PMR )
• CEDERA KEPALA :
Semua benturan atau ruda paksa pada daerah kepala yang dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otak, baik ringan atau berat
Penyebab : Benturan benda tumpul dengan kepala
Klasifikasi :
1. Cedera kepala sederhana
2. Patah tulang tengkorak
3. Cedera otak (dapat disertai patah tulang tengkorak)
• CEDERA SPINAL :
Semua cedera yang berhubungan dengan tulang belakang, mulai dari tulang leher sampai tulang ekor termasuk persyarafan didalamnya.
Penyebab :
1. Benturan benda tumpul pada daerah tulang belakang
2. Jatuh dari ketinggian
3. Kecelakaan lalu lintas, dll.
• CEDERA LEHER :
- Leher memiliki banyak jaringan yang mudah mengalami cedera
- Luka terbuka yang besar pada leher dapat mengakibatkan masuknya udara dalam peredarah darah (emboli udara)
- Emboli udara dapat mengakibatkan sumbatan yang dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke
- Luka tertutup sama berbahayanya karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan emboli udara
- Setiap cedera leher harus dianggap serius sampai terbukti aman difasilitas kesehatan
• CEDERA DADA :
- Sering disertai dengan terjadinya cedera pada jantung
- Apapun jenis cedera dada pada dasarnya semua akan mengarah kepada gangguan system pernafasan yang dapat berakibat fatal
Klasifikasi :
1. Cedera dada tertutup
2. Cedera dada terbuka
Faktor Penyulit :
1. Rongga dada kemasukan udara bebas (pneumotoraks)
2. Rongga dada kemasukan darah (hemotoraks)
3. Gabungan keduanya
BAB IX
LUKA BAKAR
Pengertian :
Semua cedera yang yang terjadi akibat paparan terhadap suhu yang tinggi
Penyebab :
1. Thermal (suhu lebih dari 600C), ex : api, uap panas, benda panas
2. Kimia (asam/basa kuat), ex : asam kuat, basa kuat, soda api
3. Listrik, ex : listrik rumah tangga, kilat
4. Radiasi, ex : sinar matahari (sinar ultraviolet), bahan radio aktif
Penggolongan :
1. Luka bakar derajat satu (permukaan)
2. Luka bakar derajat dua (sedikit lebih dalam)
3. Luka bakar derajat tiga
Penanganan :
1. Hentikan proses luka bakarnya, bila ada bahan kimia alirkan terus selama 20 menit atau lebih
2. Lepaskan pakaian atau perhiasan, bila melekat gunting disekitarnya jangan memaksa untuk melepaskan bagian yang melekat
3. Lakukan penilaian dini
4. Tentukan derajat luka bakar
5. Tutup luka bakar, jangan gunakan lemak, salep, cairan, antiseptic atau es
6. Jaga suhu tubuh penderita, rawat cedera lain bila perlu
7. Rujuk ke fasilitas kesehatan
BAB X
PEMINDAHAN PENDERITA
Prinsip Dasar Memindahkan Penderita :
1. Jangan dilakukan jika tidak mutlak diperlukan
2. Lakukan sesuai dengan teknik yang baik dan benar
3. Kondisi fisik penolong harus baik dan terlatih
Pemindahan Darurat :
1. Tarikan lengan
2. Tarikan bahu
3. Tarikan baju
4. Tarikan selimut
5. Menjulang
Pemindahan Biasa/tidak darurat :
1. Teknik angkatan langsung
2. Teknik angkat anggota gerak
BAB XI
KEDARURATAN MEDIS
Gejala Kedaruratan Medis :
1. Demam
2. Nyeri
3. Mual & Muntah
4. Buang air kecil berlebihan atau tidak sama sekali
5. Pusing, merasa akan pingsan, merasa akan kiamat
6. Sesak atau merasa sukar bernafas
7. Rasa haus dan lapar yang berlebihan
Tanda Kedaruratan Medis :
1. Perubahan status mental
2. Perubahan irama jantung
3. Perubahan pernafasan
4. Perubahan keadaan kulit
5. Perubahan tekanan darah
6. Manik mata
7. Bau khas dari mulut atau hidung
8. Aktifitas otot tidak normal
9. Gangguan saluran cerna
10. Tanda-tanda lainnya yang seharusnya tidak ada
Kedaruratan Medis umumnya disebabkan oleh :
1. Gangguan jantung dan pernafasan
2. Gangguan kesadaran atau perubahan status mental
3. Gangguan akibat perubahan lingkungan
4. Keracunan
5. Lain-lain
• AYAN / EPILEPSI
Kekakuan tubuh dan anggota gerak untuk beberapa saat yang disertai kejang dan diikuti hilangnya kesadaran
Gejala & Tanda :
1. Pandangan penderita mendadak kosong, merasa mendengar atau melihat sesuatu
2. Teriakan tercekik
3. Jatuh tiba-tiba, berbaring kaku sesaat, punggung melengkung
4. Wajah dan leher kebiruan dan sembab
5. Gerakan kejang otot
6. Tidak ada respon
7. Mulut berbuih, kadang berdarah
8. mungkin lidah tergigit
9. Mungkin hilang kendali kemih dan pencernaan, penderita mengalami BAB dan BAK spontan
10. Penderita kembali sadar dalam waktu yang tidak lama tapi bingung atau tidak menyadari apa yang terjadi
11. Setelah kejang, penderita kelelahan dan tidur
Penatalaksanaan :
1. Lindungi penderita dari cedera
2. Jangan menahan atau melawan kejang
3. Lindungi lidah penderita dari tergigit
4. Posisikan stabil segera
5. Rawat cedera akibat kejang
6. Bila serangan telah berlalu, penderita tertidur, lakukan :
a. Jagalah jalan nafas agar tidak tersumbat
b. Biarkan istirahat
c. Hindari penderita dari ketegangan dan rasa malu sekitar
• PINGSAN ( SYNCOPE / COLLAPSE )
Terjadi karena peredaran darah ke otak berkurang, yang dapat terjadi karena emosi yang hebat, berada dalam ruangan sesak tanpa udara segar yang cukup, letih dan lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga.
Gejala dan Tanda :
1. Perasaan limbung
2. Pandangan berkunang-kunang dan pendengaran berdenging
3. Lemas, keluar keringat dingin
4. Menguap
5. Dapat menjadi tidak ada respon yang biasanya terjadi hanya beberapa menit
6. Denyut nadi lambat
Penatalaksanaan :
1. Baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan
2. Longgarkan pakaian
3. Usahakan penderita menghirup udara segar
4. Periksa cedera lainnya
5. Beri selimut agar badannya hangat
6. Bila pulih, usahakan istirahatkan beberapa menit
7. Bila tidak cepat pulih, maka :
a. Periksa nafas dan nadi
b. Posisikan stabil
c. Bawa ke RS/dokter/Puskesmas
• PAPARAN PANAS
1. Kejang Panas
- Kejang disertai nyeri pada otot saat melakukan kegiatan fisik (otot tungkai & perut)
- Kehilangan cairan dan elektrolit melalui keringat
- Penderita umumnya sadar dan berkeringat, suhu tubuh normal
Gejala dan Tanda :
1. Kejang pada otot yang disertai nyeri
2. Kelelahan
3. Mual
4. Mungkin pingsan
Penatalaksanaan :
1. Pindahkan penderita ke tempat teduh/aman
2. Baringkan sampai kejangnya hilang
3. Beri minum pada penderita, bila ada cairan oralit atau sejenisnya
4. Bila tidak ada maka dapat diberikan air dicampur sedikit garam dan gula
5. Jangan membuang waktu untuk mencari garam
6. Rujuk ke fasilitas kesehatan, terutama bila kejang tidak berhenti
2. Kelelahan Panas
- Kondisi yang tidak fit pada saat melakukan aktifitas di lingkungan yang suhu udaranya relatif tinggi, yang mengakibatkan terganggunya aliran darah
- Kehilangan cairan dan elektrolit melalui keringat
- Sistem sirkulasi terganggu
- Bila tidak segera diatasi, kelelahan panas bias menjadi sengatan panas
Gejala dan Tanda :
1. Pernafasan cepat & dangkal
2. Nadi lemah
3. Kulit terapa dingin, keriput, lembab dan selaput lender pucat
4. Pucat, keringat berlebihan
5. Lemah
6. Pusing, kadang penurunan respons
7. Lidah kering dan haus
Penatalaksanaan :
1. Baringkan penderita ditempat yang teduh
2. Kendorkan pakaian yang mengikat
3. Tinggikan tungkai penderita 20-30 cm
4. Beri oksigen bila ada
5. Beri minum bila penderita sadar
6. Rujuk ke fasilitas kesehatan
3. Sengatan Panas
- Merupakan keadaan yang mengancam nyawa
- Sistem pengaturan suhu tubuh gagal
- Penderita sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan kelebihan panas, sehingga suhu tubuh menjadi tinggi dan berbahaya bagi keselamatan penderita
- Penderita tidak lagi berkeringat
- Bila tidak segera diatas maka sel otak akan segera mati
- Biasanya terjadi akibat aktivitas fisik yang berlebihan ditempat bersuhu tinggi atau ditempat yang kelembaban dan ventilasinya kurang baik
Gejala dan Tanda :
1. Pernafasan cepat dan dalam
2. Nadi cepat dan kuat diikuti nadi cepat tetapi lemah
3. Kulit teraba kering, panas kadang kemerahan
4. Manik mata melebar
5. Kehilangan kesadaran
6. Kejang umum atau gemetar pada otot
Penatalaksanaan :
1. Turunkan suhu tubuh penderita secepat mungkin
2. Letakkan kantung es pada ketiak, lipatan paha, dibelakang lutut dan sekitar mata kaki serta disamping leher
3. Bila mungkin, masukkan penderita kedalam bak berisi air dingin dan tambahkan es kedalamnya
4. Rujuk ke fasilitas kesehatan
• PAPARAN DINGIN ( HIPOTERMIA )
- Suhu tubuh menurun < 350C
- Respons tubuh gemetar
- Suhu tidak perlu sangat dingin untuk mencetuskan hipotermia
- Jangan berpendapat bahwa didaerah tropis tidak mungkin terjadi hipotermia
- Dapat terjadi akibat penderita berada dialam terbuka untuk waktu yang cukup lama
- Keadaan yang memperburuk hipotermia yaitu suhu rendah, factor angina, air, usia, kesehatan, penyakit yang sudah diderita atau cedera yang terjadi, alcohol dan penyalahgunaan obat, dan kekurangan makanan
Gejala dan Tanda Hipotermia Sedang :
1. Menggiigil
2. Terasa melayang
3. Pernafasan cepat, nadi lambat
4. Gangguan pengelihatan
5. Reaksi mata lambat
6. Gemetar
Gejala dan Tanda Hipotermia Berat :
1. Pernafasan sangat lambat
2. Denyut nadi sangat lambat
3. Tidak ada respon
4. Manik mata melebar dan tidak ada reaksi
5. Alat gerak kaku
6. Tidak menggigil
Penatalaksanaan :
1. Penilaian dini dan pemeriksaan penderita
2. Pindahkan penderita dari lingkungan dingin
3. Jaga jalan nafas dan beri oksigen bila ada
4. Ganti pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetap kering
5. Bila penderita sadar dapat diberikan minuman hangat secara pelan-pelan
6. Pantau tanda vital secara berkala
7. Rujuk ke fasilitas kesehatan
BAB XII
K E R A C U N A N
Pengertian :
Racun adalah zat yang bila masuk kedalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian.
Berdasarkan jalur masuknya racun kedalam tubuh, racun terbagi menjadi :
1. Keracunan melalui mulut/alat pencernaan
2. Keracunan melalui pernafasan
3. Keracunan melalui kontak atau penyerapan (kulit)
4. Keracunan melalui suntikan/gigitan
Gejala Umum Keracunan :
1. Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan
2. Penurunan respon, gangguan status mental
3. Gangguan pernafasan
4. Nyeri kepala, pusing, gangguan pengelihatan
5. Mual, muntah
6. Lemas, lumpuh, kesemutan
7. Pucat atau sianosis
8. Kejang-kejang
9. Syok
10. Gangguan irama jantung atau peredaran darah pada zat tertentu
Gejala Khas :
a. Keracunan melalui mulut :
1. Mual, muntah
2. Nyeri perut
3. Diare
4. Nafas/mulut berbau
5. Suara parau, nyeri di saluran cerna
6. Luka bakar pada daerah mulut atau sisa racun didaerah mulut
7. Produksi liur berlebihan
b. Keracunan melalui pernafasan :
1. Gangguan pernafasan dan sesak nafas
2. Kulit sianosis
3. Nafas berbau
4. Batuk, suara parau
c. Keracunan melalui kulit :
1. Reaksi kulit : daerah kontak kemerahan, nyeri, melepuh dan meluas
2. Syok anafilaktik
d. Keracunan melalui suntikan/gigitan :
1. Luka di daerah suntikan/gigitan, umumnya berupa luka tusuk & bekas gigitan
2. Nyeri pada gigitan atau disekitarnya
3. Kemerahan
4. Perubahan warna (biasanya pada gigitan ular)
Penatalaksanaan :
1. Pengamanan tempat kejadian, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang
2. Pengamanan penderita dan penolong, terutama didaerah gas beracun
3. Keluarkan penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan
4. Penilaian dini, bila perlu RJP
5. Bila racun masuk melalui jalur kontak, maka buka baju penderita dan bersihkan sisa bahan beracun bila ada
6. Awasi jalan nafas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah
7. Beri oksigen bila ada sesuai ketentuan, khususnya pada keracunan melalui udara
8. Bila keracunan terjadi secara kontak maka bilaslah daerah yang terkena dengan air
9. Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan, sebaiknya diamankan untuk diidentifikasi
10. Penatalaksanaan syok bila terjadi
11. Pantau tanda vital secara berkala
12. Bawa ke RS/dokter/Puskesmas
• GIGITAN ULAR
Gejala dan Tanda Umum :
Bila seseorang penderita gigitan ular menunjukkan gejala dan tanda maka berarti keadaannya serius dan perlu penanganan khusus
Beberapa Gejala dan Tanda :
1. Demam
2. Mual dan muntah
3. Pingsan
4. Lemah
5. Nadi cepat dan lemah
6. Kejang
7. Gangguan pernafasan
Tindakan Pertolongan :
1. Amankan diri penolong dan tempat kejadian
2. Tenangkan penderita
3. Lakukan penilaian dini
4. Rawat luka, bila perlu pasang bidai
5. Rujuk ke fasilitas kesehatan
BAB XIII
PERTOLONGAN KORBAN BANYAK ( INCIDENT COMMAND SYSTEM )
• TRIAGE :
Triage dilakukan dengan cara memilah korban secara cepat dan menggolongkan kedalam salah satu dari empat kelompok yang ada, yaitu :
- Prioritas 1, Prioritas Tertinggi, diberikan kepada korban yang berada dalam keadaan kritis seperti gangguan pernafasan, perdarahan yang belum terkendali/perdarahan besar, penurunan status mental (respons)
- Prioritas 2, Prioritas Kedua, yaitu mereka yang perlu pertolongan, misalnya luka bakar, gangguan saluran nafas, nyeri hebat setempat, termasuk bengkak atau perubahan bentuk dan cedera punggung
- Prioritas 3, Prioritas Terendah, dapat ditunda karena cedera relatif ringan, tidak perlu banyak dibantu, dapat menunggu pertolongan tanpa menjadi lebih parah
- Prioritas 0, atau Prioritas Keempat, mereka yang mengalami cedera mematikan atau sudah meninggal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar