Jumat, 25 Desember 2009

Dakwah Sebagai Proses Sosialisasi Nilai-Nilai Islam

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Puji dan syukur dengan hati dan pikiran yang tulus dipanjatkankehadirat Allah SWT.,karena berkat ni’kmat, ma’unah, dan hidayah-NYA, makalah atau tugas kelompok ini dapat terselesaikan untuk memenuhi tugas Ilmu Dakwah.
Shalawat dan salam dihaturkan pada nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainnya untuk tegaknya Syi’ar islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
Terima kasih kepada dosen Ilmu Dakwah yang telah membantu saya dalam pembuatan makalah ini.Terima kasih kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu hingga terwujudnya makalah ini.
Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan agar dalam pembuatan makalah-makalah selanjutnya tidak terjadi kesalahan seperti yang terdapat dalam makalah ini.

Wassalamua’alaikum wr.wb.

Jakarta,06 -11-2009

(penulis)






BAB I
PENDAHULUAN


Kita pahami bersama bahwa dakwah merupakan aktivitas mulia, dimana Allah SWT. telah berjanji kepada para pengembannya dengan janji yang benar dan pasti; akan mengaruniakan kemuliaan, pahala yang tiada terputus, pertolongan, kemenangan dan surga.
Dakwah merupakan aktivitas penting, karena dakwah merupakan aktivitas penyadaran umat yang akan menggiring manusia kepada penyembahan hanya kepada Allah, membersihkan jiwa manusia dan membebaskannya dari belenggu syahwat. dakwah merupakan sebuah proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang mentransformasi individu, kelompok juga masyarakat menuju kehidupan Islam.
Dengan demikian dakwah memiliki dua peran yang saling terkait, yaitu dakwah sebagai proses komunikasi dan proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang juga merupakan proses perubahan sosial.
















BAB II
PEMBAHASAN

Dakwah Sebagai Proses Sosialisasi Nilai-Nilai Islam

Kita pahami bersama bahwa dakwah merupakan aktivitas mulia, dimana Allah SWT. telah berjanji kepada para pengembannya dengan janji yang benar dan pasti; akan mengaruniakan kemuliaan, pahala yang tiada terputus, pertolongan, kemenangan dan surga. Allah SWT pun telah memberikan gelar khoiru ummah (umat terbaik) atas kaum Muslim disebabkan aktivitas dakwah yang mereka lakukan. Allah Swt. berfirman:
“Kamu sekalian adalah sebaik-baik ummat (khairu ummah) yang diturunkan kepada manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Qs. Ali Imran 110).
Dakwah juga merupakan aktivitas penting, karena dakwah merupakan aktivitas penyadaran umat yang akan menggiring manusia kepada penyembahan hanya kepada Allah, membersihkan jiwa manusia dan membebaskannya dari belenggu syahwat. Lebih dari itu, dakwah merupakan sebuah proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang mentransformasi individu, kelompok juga masyarakat menuju kehidupan Islam. Tegak tidaknya Islam ditentukan dengan tegak tidaknya dakwah Islam.
Salah satunya dengan model dakwah transformatif, yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (konvensional) untuk memberikan materi-materi keagamaan kepada masyarakat, yang memposisikan da’i sebagai penyebar pesan-pesab keagamaan, tetapi menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat dengan cara melakukan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, dakwah tidak hanya untuk memperkukuh aspek relijiusitas masyarakat, melainkan juga memperkukuh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial.
Maka, sangatlah wajar apabila Allah Swt akan memberikan kemuliaan dan pahala yang terus mengalir kepada para pengemban dakwah yang telah mencurahkan segala daya dan upayanya dalam perjuangan dakwah. Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa membuat (menganjurkan dan mengamalkan) kebaikan dalam Islam maka ia akan mendapat pahala serta tambahan pahala dari orang yang mengikuti (ajarannya itu) tanpa sedikitpun mengurangi ganjaran orang itu. Dan barang siapa membuat (menganjurkan dan mengamalkan) keburukan, maka ia akan mendapat dosa serta tambahan dosa dari orang yang mengikuti (ajaran itu) tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang itu.” (HR. Muslim).

Dakwah Sebagai Proses Komunikasi dan Sosialisasi
Sebenarnya dakwah itu sendiri adalah komunikasi, dakwah tanpa komunikasi tidak akan mampu berjalan menuju target-target yang diinginkan, demikian juga komunikasi tanpa dakwah akan kehilangan nilai-nilai Ilahi dalam kehidupan. Maka dari sekian banyak definisi dakwah ada sebuah definisi yang menyatakan, bahwa dakwah adalah proses komunikasi efektif dan kontinyu, bersifat umum dan rasional, dengan menggunakan cara-cara ilmiah dan sarana yang efesien, dalam mencapai tujuan-tujuannya.
Definisi tersebut menegaskan peran dakwah dalam berkomunikasi dengan orang banyak melalui media-media tertentu. Upaya tablig (menyampaikan) Islam kepada masyarkat adalah salah satu media komunikasi dakwah yang digunakan Rasulullah saw dengan pesan berantai : “…Maka hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang absen” (al-hadits).
Dengan demikian dakwah memiliki dua peran yang saling terkait, yaitu dakwah sebagai proses komunikasi dan proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang juga merupakan proses perubahan sosial. Peran tersebut memiliki fungsi mengupayakan perubahan nilai dalam masyarakat sesuai dengan tujuan-tujuan dakwah Islam, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi keislaman kepada umat, sehingga wawasan keislaman semakin luas dan terasa nikmat dan kerahmatannya dalam kehidupan berbangsa, dengan harapan terwujudnya kesadaran umat dalam mengekspresikan diri sebagai muslim dan mengaktualisasikan keislamannya
Seorang Da’i haruslah mensosialisasikan nilai-nilai Islam pada mad’u-nya, sehingga ajaran Islam dengan sukarela dapat diamalkan dalam setiap sendi kehidupan manusia yang sesuai dengan tujuan dakwah Islam. Sebab dakwah pada hakikatnya adalah aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur, untuk mempengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap dan bertindak manusia.

Masjid Pusat Kegiatan Masyarakat
Kegiatan dakwah dalam rangka mensosialisasikan nilai-nilai Islam dapat dilakukan di berbagai macam tempat. Masjid adalah salah satu tempat yang paling efektif dalam rangka mensosialisasikan nilai-nilai Islam. Karena masjid adalah pusat kegiatan masyarakat dan juga menjadi pusat kesatuan sosial. Orang berdatangan ke masjid di samping untuk beribadah, juga untuk kegiatan kemasyarakatan. Mereka juga datang ke masjid untuk bermusyawarah bagi kemaslahatan umat. Di masjid pula khatib memberikan penerangan, bimbingan, petunjuk, dan fatwa dalam menghadapi dan menjawab permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari dalam bermasyarakat. Nabi SAW menjadikan masjid sebagai lembaga musyawarah.
Sesungguhnya masjid adalah tempat yang multi fungsi. Berbagai macam kegiatan dapat dilakukan di masjid, mulai dari urusan keagamaan sampai urusan politik. Khalifah Abu Bakar mempergunakan ruang depan masjid untuk mengerjakan administrasi negara, Nabi sendiri menerima delegasi-delegasi yang bukan muslim di dalam masjid.

Bentuk Sosialisasi Nilai-Nilai Islam
Setiap bentuk kegiatan yang dilakukan di masjid sesungguhnya merupakan upaya untuk mensosialisasikan nilai-nilai Islam. Sosialisasi nilai-nilai Islam dapat dimasukkan dalam setiap sendi kehidupan manusia, di antaranya:
1. Sendi ekonomi. Da’i dapat memberi petunjuk kepada masyarakat agar mengazaskan praktek ekonomi pada Alquran dan hadist. Segi-segi ekonomi itu misalnya: jual-beli yang halal, riba dalam berdagang, jujur dalam timbangan, pembagian kekayaan, distribusi ekonomi, meminjamkan modal, dan lainnya. . Alquran menyebutkan “Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba ”. Dalam hadist juga diterangkan “Pedagang yang jujur berada dalam naungan ‘Arasy pada hari kiamat.”(HR. Baihaqi)
2. Sendi politik. Pada zaman Nabi SAW, Khalifah di suatu daerah diangkat menjadi gubernur sekaligus ditunjuk menjadi imam masjid. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya harus cakap dalam mengurus rakyatnya, tapi juga ia harus berpegang teguh pada ajaran Islam. Bayangkan jika seluruh pemimpin kita menamalkan ajaran Islam, niscaya tidak akan pernah kita mendengar berita pejabat korupsi atau menerima suap. Nabi SAW bersabda “Orang yang menyuap dan orang yang menerima suap sama-sama masuk neraka”.
3. Segi pendidikan. Sosialisasi nilai Islam dalam bidang pendidikan sangat jelas terlihat. Kita banyak menemukan masjid yang memiliki fasilitas perpustakaan, mengadakan pengajian agama, pengajaran masyarakat, dan sebagainya. Ketika masjid sudah tidak dapat menampung perkembangan pengajaran umat, dibangunlah madrasah yang melanjutkan fungsi masjid, misalnya Abdul Rahman III yang menempatkan Universitas Cordoba di Masjid Cordoba. Nabi SAW bersabda “Tak seorang pun keluar dari rumahnya untuk mencari ilmu, melainkan malaikat membentangkan sayap-sayapnya karena sangat senang pada apa yang dilakukannya”.
4. Segi kesehatan. Ajaran Islam amat menyeluruh dalam kehidupan manusia, tak terkecuali masalah kesehatan. Islam melarang umatnya untuk memakan makanan haram, seperti darah, bangkai, daging babi dan anjing, hewan yang mati karena terjatuh, tercekik, dll. Larangan-larangan tersebut semata-mata bertujuan menghindarkan manusia dari berbagai macam penyakit berbahaya.
5. Segi Kesenian. Sosialisasi islam dalam kesenian sangat erat kaitannya dengan arsitektur masjid yang dibangun dengan indah dan dilengkapi kaligrafi yang bertuliskan asma Allah, ayat Alquran yang dilagukan dengan seni suara, azan dikumandangkan dengan suara yang merdu, orang diserukan datang ke masjid dengan pakaian yang indah.
Demikianlah dapat kita rasakan betapa rahmat Allah selalu menyertai kita. Islam dengan ajarannya yang luwes dapat menjawab semua tantangan zaman.

Spiritualitas dan Penggalian Makna Sosial
Peristiwa-peristiwa spiritual pada masa nabi dapat juga kita gali dari sisi makna sosialnya. Sebagai contoh:
1. Isra Mikraj: Perjalanan Ruhani dan Inspirasi Peradaban Manusia.
Ada sejumlah peristiwa yang bisa disebutkan disini, pertama, sebelum melakukan perjalanan Isra Mikraj, oleh Jibril dada Rasulullah dibelah dan dicuci bersih, dalam waktu singkat, tanpa Rasulullah merasakan sakit sedikitpun. Hal semacam itu pada 1400 tahun yang lalu tak dapat dijangkau akal masyarakat. Peristiwa ini merangsang umat manusia untuk mempelajari anatomi tubuh secara teliti dan mendalam. Dan akhirnya, sekarang, operasi bedah sudah bisa dilakukan. Kedua, Rasulullah melakukan perjalanan dari Mekah ke Yerusalem, kemudian naik ke langit, dan kembali lagi ke Mekkah sebelum fajar tiba. Jika di dalami sisi lain, sesungguhnya peristiwa ini menyimpan makna bahwa umat manusia harus menemukan sebuah teknologi transportasi yang memiliki kecepatan tinggi.
2. Nuzulul Quran dan Pesan Perdamaian Islam.
Pesan utama yang diisyaratkan Allah dalam peristiwa tersebut antara lain: Pertama, malam nuzulul quran yang berada pada bulan Ramadhan memang mengemban misi penempaan totalitas kepatuhan seorang hamba di bawah kebiasaan dan aturan main Tuhannya. Maka tidak heran jika kemudian Allah menjadikan ritual puasa pada bulan Ramadhan sebagai bentuk dari penempaan totalitas kepatuhan. Kedua, Allah secara dramatis menggambarkan bahwa nilai kebajikan pada malam itu jauh melebihi kebajikan yang dilakukan selama “seribu bulan”. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa setelah seorang hamba sampai pada totalitas kepatuhan kepada Tuhannya, maka tugas kehambaan selanjutnya adalah bagaimana ia bisa menyebarkan rahmatdan kedamaian di muka bumi.
3. Idul Fitri dan Kesucian Jiwa.
Penyucian jiwa itu berlangsung dalam dua wilayah sekaligus: wilayah hubungan dengan Allah dan wilayah hubungan dengan manusia. Puasa merupakan ibadah yang diorientasikan hanya kepada Allah dan zakat fitrah sebagai wujud penyucian dalam hubungan dengan manusia.
4. Haji dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal
Ibadah haji merupakan wahana bagi seorang muslim untuk merealisasikan prinsip-prinsip nilai-nilai universal kemanusiaan yang dibawa oleh Islam. Dalam ibadah haji, terlilhat jelas muatan dan makna nilai persatuan (al-wahidah), persamaan (al-musawwah) dan perdamaian (as-salam).


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah bahwa dakwah adalah aktivitas mulia, dimana Allah SWT. telah berjanji kepada para pengembannya dengan janji yang benar dan pasti; akan mengaruniakan kemuliaan, pahala yang tiada terputus, pertolongan, kemenangan dan surga. dakwah juga merupakan aktivitas penyadaran umat yang akan menggiring manusia kepada penyembahan hanya kepada Allah, membersihkan jiwa manusia dan membebaskannya dari belenggu syahwat. Lebih dari itu, dakwah merupakan sebuah proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang mentransformasi individu, kelompok juga masyarakat menuju kehidupan Islam. Dengan demikian dakwah memiliki dua peran yang saling terkait, yaitu dakwah sebagai proses komunikasi dan proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang juga merupakan proses perubahan sosial.
masjid sebagai tepat beribadah juga dipergunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat dan juga menjadi pusat kesatuan sosial.berbagai macam kegiatan dapat dilakukan di masjid mulai dari urusan keagamaan sampai urusan politik, Di masjid pula khatib memberikan penerangan, bimbingan, petunjuk, dan fatwa dalam menghadapi dan menjawab permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari dalam bermasyarakat.












DAFTAR PUSTAKA

Gazalba, Sidi, Masyarakat Islam, Pengantar Sosiologi dan Sosiografi,

Hafidz, Abdullah Cholis, dkk, Dakwah Transformatif, Jakarta, PP LAKPESDAM NU, 2006.
Najieh Ahmad, Hadist dan Syair untuk Bekal Dakwah,

http://www.ikadi.org/artikel/fiqhdakwah/peran-dakwah-komunikasi-dan-perubahan.

1 komentar: