Jumat, 25 Desember 2009

Pertolongan Pertama

BAB I
PERTOLONGAN PERTAMA

Pengertian Pertolongan Pertama :
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera/kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar.

Pengertian Medis Dasar :
Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam atau awam yang terlatih khusus.

Pelaku Pertolongan Pertama :
Adalah orang yang pertama kali tiba ditempat kejadian, yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar.

Tujuan Pertolongan Pertama :
a. Menyelamatkan jiwa penderita
b. Mencegah cacat
c. Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan

Pelanggaran tentang orang yang perlu ditolong diatur dalam Pasal 531 KUHP :
“Barang siapa menyaksikan sendiri ada orang didalam keadaan bahaya maut, lalai memberikan atau mengadakan pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapat diberikannya atau diadakannya dengan tidak akan menguatirkan, bahwa ia sendiri atau orang lain akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,- Jika orang yang perlu ditolong itu mati, diancam dengan KUHP 45, 165, 187, 304s, 478, 525, 566”.

Pelaku Pertolongan Pertama harus menjaga kerahasiaan penderita yang ditolongnya diatur dalam Pasal 322 KUHP :
1. Barang siapa dengan sengaja membuka sesuatu rahasia yang wajib menyimpannya oleh karena jabatan atau pekerjaannya baik yang sekarang, maupun yang dahulu, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan bulan atau dengan denda sebanyak-banyaknya sembilan ribu rupiah.
2. Jika kejahatan itu dilakukannya tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat dituntut atas pengaduan orang itu.

Pelaku pertolongan pertama sebaiknya menggunakan alat perlindungan diri yang berguna untuk melindungi diri dari kemungkinan kontaminasi atau penularan penyakit yang mungkin terdapat pada korban, beberapa macam alat perlindungan diri yang mudah didapat antara lain :
1. Sarung tangan latex
2. Masker
3. Kacamata pelindung
4. Baju pelindung
5. Masker Resusitasi
6. Helm

Selain itu tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara :
1. Mencuci tangan dengan air mengalir sebelum & setelah melakukan pertolongan
2. Membersihkan alat – alat dengan jalan :
a. Mencuci dengan air & sabun
b. Desinfeksi
c. Sterilisasi
3. Bersihkan tempat kejadian dan sekitarnya
4. Buanglah penutup, pembalut dan sarung tangan serta pakaian kotor ditempat yang tertutup dengan benar.

BAB II
ANATOMI DAN FAAL DASAR

Anatomi :
Adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh dan bentuk tubuh atau juga dikenal dengan ilmu urai.

Fisiologi (Faal Tubuh) :
Adalah ilmu yang mempelajari faal (fungsi) bagian dari alat atau jaringan tubuh.

Terminologi Anatomi :
- Posisi anatomi adalah posisi khayal saat penolong melaporkan keadaan luka
- Posisi berdiri tegak menghadap depan dengan kedua telapak tangan menghadap ke depan

Bidang Anatomi :
- Bidang Medial : Bidang khayal yang membagi tubuh menjadi kanan dan kiri
- Bidang Frontal : Bidang khayal yang membagi tubuh menjadi depan dan belakang
- Bidang Transversal : Bidang khayal yang membagi tubuh menjadi atas dan bawah


Alat Gerak :
Alat gerak terbagi menjadi 2 bagian, yaitu alat gerak atas yang terdiri dari lengan atas & lengan bawah, dan alat gerak bawah yang terdiri dari tungkai atas dan tungkai bawah



Bagian Tubuh :
1. Kepala, terdiri dari : Tengkorang – wajah - rahang bawah
2. Leher
3. Batang tubuh, terdiri dari : Dada – Perut – Punggung – Panggul
4. Anggota gerak atas, terdiri dari : Sendi Bahu – Lengan atas – Siku – Lengan bawah – Pergelangan tangan – Tangan
5. Anggota gerak bawah, terdiri dari : Sendi panggul – Tungkai atas – Lutut – Tungkai bawah – Pergelangan kaki – Kaki


Rongga Tubuh :
Rongga tubuh manusia terdiri dari :
1. Rongga Tengkorak, berfungsi melindungi otak
2. Rongga tulang belakang, berfungsi melindungi bumbung syaraf / spinal cord
3. Rongga Dada, berfungsi melindungi jantung dan paru-paru
4. Rongga Perut, berfungsi melindungi organ dalam perut
5. Rongga Panggul, berfungsi melindungi organ kemaluan



Rongga Perut :
Rongga perut berisi berbagai macam organ yang berkaitan dengan pencernaan, selain itu juga terdapat organ yang penting untuk membantu metabolisme tubuh.
Untuk memudahkan penilaian rongga perut dibagi menjadi 4 kwadran, yaitu :
1. Kwadran kanan atas, berisi hati, empedu, pankreas, dan usus
2. Kwadran kiri atas, berisi lambung, limpa dan usus
3. Kwadran kanan bawah, berisi organ usus termasuk usus buntu (appendiks)
4. Kwadran kiri bawah, berisi organ usus dan pembuluh darah


BAB III
P E N I L A I A N


Tindakan penilaian terbagi dalam langkah-langkah sebagai berikut :
1. Penilaian Keadaan
2. Penilaian Dini
3. Pemeriksaan Fisik
4. Riwayat Penderita
5. Pemeriksaan Berkala atau Lanjutan
6. Pelaporan

• Penilaian Keadaan
1. Keselamatan semua
2. Memperkenalkan diri, bila memungkinkan
3. Mekanisme cedera
4. Mengenali cedera & bertindak
5. Stabilkan & pantau
6. Minta bantuan

• Penilaian Dini (KRABC)
1. Kesan umum
2. Respon / Kesadaran
- A : Awas (Penderita sadar penuh dan mengetahui keberadaannya)
- S : Suara (Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara)
- N : Nyeri (Penderita hanya bereaksi terhadap rangsangan nyeri)
- T : Tidak Respon (Penderita tidak bereaksi terhadap rangsangan apapun)
3. Airway
- TDAD : Tekan – Dahi – Angkat – Dagu
4. Breathing
- LDR : Lihat – Dengar - Rasakan
5. Circulation
- Nilai nadi
- Perdarahan besar
- Kulit
6. Laporan / bantuan

• Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan : Kepala – Leher – Dada – Perut – Panggul – Alat gerak
Melakukan pemeriksaan dan perabaan untuk mencari :
- P : Perubahan bentuk
- L : Luka Terbuka
- N : Nyeri tekan
- B : Bengkak
Melakukan pemeriksaan tanda vital :
- Nadi : Frekuensi, kuat/lemah, teratur/tidak
- Nafas : Frekuensi, mudah/sesak, otot bantu
- Kulit : Kebiruan – Pucat – Kemerahan – Kekuningan - Biru kehitaman
- Suhu : Suhu normal 370C
- Tekanan Darah : Sistolik (100-140 mmHg)/Diastolik (60-90 mmHg)






• Riwayat Penderita
- K : Keluhan utama
- O : Obat-obatan yang diminum
- M : Makanan / minuman terakhir
- P : Penyakit yang diderita
- A : Alergi yang dialami
- K : Kejadian

• Pemeriksaan Berkala / Lanjutan
- Ulang penilaian dini
- Ulang pemeriksaan fisik sesuai kebutuhan
- Periksa perawatan
- Tenangkan penderita

Pada penderita stabil lakukan setiap 15 menit & pada penderita tidak stabil lakukan setiap 5 menit

• Pelaporan
- Umur & jenis kelamin
- Keluhan utama
- Tingkat respon / kesadaran
- Kondisi Airway & Breathing
- Kondisi Circulation
- Temuan pemeriksaan fisik
- Riwayat KOMPAK yang penting
- Tindakan perawatan yang sudah diberikan


BAB IV
BANTUAN HIDUP DASAR
&
RESUSITASI JANTUNG PARU-PARU

Kondisi dimana penderita mengalami sumbatan jalan nafas, tidak ditemukan adanya nafas dan atau nadi tidak teraba, maka penolong harus segera melakukan Bantuan Hidup Dasar.

Sistem Pernafasan dan Sirkulasi
Sistem pernafasan memasok oksigen (O2) ke tubuh sesuai dengan kebutuhan dan juga mengeluarkan karbondioksida (CO2)

Komponen-komponen yang berhubungan dengan sirkulasi adalah :
- Jantung
- Pembuluh darah (Arteri, Vena & Kapiler)
- Darah & bagian-bagiannya

Jantung dapat berhenti bekerja karena banyak sebab, antara lain :
- Penyakit Jantung
- Gangguan Pernafasan
- Syok
- Komplikasi penyakit lain

MATI :
- Mati Klinis
Tidak ditemukan adanya pernafasan dan denyut nadi, bersifat reversible, penderita hanya memiliki waktu 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan otak
- Mati Biologis
Kematian sel dimulai terutama sel otak dan bersifat irreversible, biasa terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung

Beberapa tanda yang dapat dijadikan pedoman sudah terjadinya kematian :
- Lebam Mayat, terjadi 20-30 menit setelah kematian
- Kaku Mayat, terjadi antara 1-2 jam setelah kematian
- Pembusukan, terjadi setelah 6-12 jam setelah kematian
- Tanda lainnya : Cedera mematikan

Penderita BHD mempunyai harapan hidup lebih baik jika semua langkah dalam “Rantai Penyelamatan / Rantai Survival” dilakukan bersamaan :
1. Kecepatan dalam permintaan bantuan (SPGDT)
2. Resusitasi Jantung Paru
3. Defibrilasi (Kejut jantung dengan listrik)
4. Pertolongan Hidup Lanjut (Advance Cardiac Life Support)

Ada beberapa teknik untuk memberikan bantuan pernafasan, yaitu :
a. Menggunakan mulut penolong :
1. Mulut ke masker RJP
2. Mulut ke APD
3. Mulut ke mulut/hidung
b. Menggunakan alat bantu : Kantung Masker Berkatup (Bag Valve Mask/BVM)

Frekuensi Pemberian Nafas Buatan :
Dewasa : 10–12x pernafasan/menit, masing-masing 1,5 - 2 detik
Anak ( 1-8 Th ) : 20x pernafasan/menit, masing-masing 1 – 1,5 detik
Bayi (0-1 Th) : Lebih dari 20x pernafasan/menit, masing-masing 1 – 1,5 detik
Bayi baru lahir : 40x pernafasan/menit, masing-masing 1 – 1,5 detik
Resusitasi Jantung Paru :
Dewasa : Rasio 15 : 2 per siklus ( penolong 1 orang )
Rasio 5 : 1 per siklus ( penolong 2 orang )
Anak / Bayi : Rasio 5 : 1 per siklus



BAB V
PERDARAHAN DAN SYOK


PERDARAHAN :
Rusaknya dinding pembuluh darah karena disebabkan oleh ruda paksa (trauma) atau penyakit.

Klasifikasi :
1. Perdarahan luar (Terbuka)
- Perdarahan Nadi (Arteri)
- Perdarahan Balik (Vena)
- Perdarahan Rambut (Kapiler)
2. Perdarahan dalam (Tertutup)


Penanganan Perdarahan Luar :
1. Tekanan Langsung, tekan bagian yang berdarah tepat diatas luka langsung
2. Elevasi (dilakukan bersamaan dengan Tekanan Langsung), tinggikan anggota badan yang beradarah lebih tinggi dari jantung
3. Titik Tekan, menekan pembuluh nadi diatas daerah yang mengalami perdarahan
4. Cara lain yang dapat membantu menghentikan perdarahan
a. Immobilisasi dengan atau tanpa bidai
b. Torniket (hanya sebagai alternatif terakhir)
c. Kompres dingin


Penanganan Perdarahan Dalam :
1. Baringkan penderita
2. Periksa dan pertahankan ABC
3. Berikan oksigen bila ada
4. Periksa pernafasan dan nadi secara berkala
5. Rawat sebagai syok
6. Jangan memberikan makan atau minum
7. Jangan lupa menangani cedera atau lukan lainnya
8. Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat


SYOK :
Keadaan dimana system peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan darah yang mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke organ vital (terutama otak, jantung & paru-paru) atau disebut hipoperfusi.

Penyebab :
1. Kegagalan jantung memompa darah
2. Kehilangan darah dalam jumlah besar
3. Pelebaran pembuluh darah (dilatasi) yang luas sehingga darah tidak dapat mengisinya dengan baik

Tanda Syok:
1. Nadi cepat dan lemah
2. Nafas cepat dan dangkal
3. Kulit pucat, dingin dan lembab
4. Terlihat sianosis pada bibir, lidah dan cuping telinga
5. Manik mata melebar
6. Perubahan keadaan mental

Gejala Syok :
1. Mual, mungkin disertai muntah
2. Hasu
3. Lemah
4. Pusing (Vertigo)
5. Tidak nyaman dan takut

Penanganan Syok :
1. Bawa penderita ke tempat teduh dan aman
2. Tidurkan terlentang, tungkai ditinggikan 20-30 cm (bila tidak ada kecurigaan patah tulang belakang atau tungkai)
3. Pakaian penderita dilonggarkan
4. Cegah kehilangan panas tubuh dengan memberi selimut
5. Tenangkan penderita
6. Pastikan jalan nafas dan pernafasan baik
7. Kontrol perdarahan dan rawat cedera bila ada
8. Berikan oksigen sesuai protokol bila ada
9. Jangan beri makan dan minum
10. Periksa tanda vital secara berkala
11. Rujuk ke fasilitas kesehatan


BAB VI
CEDERA JARINGAN LUNAK

Cedera jaringan lunak / luka :
Terputusnya keutuhan jaringan lunak baik diluar maupun didalam tubuh

Klasifikasi :
1. Luka terbuka
- Luka lecet - Avulsi (sobek)
- Luka sayat / iris - Amputir (amputasi)
- Luka robek - Cedera remuk
- Luka tusuk
2. Luka tertutup
- Memar
- Hematoma
- Cedera remuk

Fungsi Penutup Luka :
1. Membantu mengendalikan perdarahan
2. mencegah kontaminasi lebih lanjut
3. Mempercepat penyembuhan
4. Mengurangi nyeri

Fungsi Pembalut :
1. Penekanan untuk menghentikan perdarahan
2. Mempertahankan penutup luka pada tempatnya
3. Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera

Beberapa Jenis Pembalut :
1. Pembalut pita (gulung)
2. Pembalut segitiga (mitela)
3. Pembalut tabung (tubuler)
4. Pembelut penekan

Perawatan Luka Terbuka :
1. Pastikan daerah luka terlihat
2. Bersihkan daerah sekitar luka
3. Kontrol perdarahan bila ada
4. Lakukan penatalaksanaan syok pada luka-luka yang parah
5. Cegah kontaminasi lanjut
6. Beri penutup luka dan balut
7. Baringkan penderita bila kehilangan banyak darah dan lukanya cukup parah
8. Tenangkan penderita
9. Rujuk ke fasilitas kesehatan




BAB VII
CEDERA SISTEM OTOT RANGKA


• PATAH TULANG (FRACTURE)
Terputusnya jaringan tulang, baik seluruhnya atau hanya sebagian saja

Penyebab :
1. Gaya langsung
2. Gaya tidak langsung
3. Gaya Puntir

Klasifikasi :
1. Patah tulang tertutup (close fracture)
2. Patah tulang terbuka (open fracture)

Gejala dan Tanda :
1. Perubahan bentuk
2. Nyeri dan kaku
3. Terdengar suara berderik pada daerah yang patah
4. Pembengkakan
5. Memar
6. Ujung tulang terlihat
7. Sendi terkunci
8. Gangguan peredaran darah dan persyarafan
9. Periksa GSS pada bagian distal, sering terjadi mati rasa dan kelumpuhan pada daerah distal cedera



• DISLOKASI / CERAI SENDI
Keluarnya kepala sendi dari mangkok sendi atau keluarnya ujung tulang dari sendinya

Penyebab :
Sendi teregang melebihi batas, sehingga kedua ujung tulang menjadi terpisah

Gejala dan Tanda :
Sama dengan patah tulang, hanya terbatas pada pada daerah sendi


• TERKILIR OTOT (STRAIN)
Robek/putusnya jaringan ikat sekitar sendi karena sendi teregang melebihi batas

Penyebab :
Terpeleset, gerakan yang salah, sehingga sendi teregang melebihi batas normal

Gejala dan Tanda :
1. Nyeri bengkak
2. Bengkak
3. Nyeri tekan
4. Warna kulit merah kebiruan


• TERKILIR SENDI (SPRAIN)
Robeknya jaringan otot pada bagian tendon (ekor otot) karena teregang melebihi batas normal

Penyebab :
Umumnya terjadi karena pembebanan secara tiba-tiba pada otot tertentu, karena :
a. Latihan peregangan tidak cukup
b. Latihan peregangan tidak benar
c. Teregang melebihi kemampuan
d. Gerakan yang tidak benar

Gejala dan Tanda :
1. Nyeri yang tajam dan mendadak pada daerah otot tertentu
2. Nyeri menyebar keluar disertai kejang dan kaku atau kaku otot
3. Bengkak pada daerah cedera


• PEMBIDAIAN

Tujuan :
1. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah
2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar tulang yang patah
3. Memberikan istirahat pada anggota tubuh yang patah
4. Mengurangi rasa nyeri
5. Mempercepat penyembuhan
6. Mengurangi perdarahan

Jenis Bidai :
1. Bidai keras (ex. bidai kayu, bidai tiup, bidai vakum)
2. Bidai yang dapat dibentuk (ex. bidai vakum, bantal, selimut, karton, kawat)
3. Bidai Traksi (bidai jadi & bervariasi bentuknya sesuai pembuatannya)
4. Gendongan/Blat dan Bebat (ex. Gendongan lengan)
5. Bidai Improvisasi (ex. Majalah, Koran, karton)



BAB VIII
CEDERA KEPALA, LEHER, TULANG BELAKANG DAN DADA
( TIDAK UNTUK PMR )


• CEDERA KEPALA :
Semua benturan atau ruda paksa pada daerah kepala yang dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otak, baik ringan atau berat

Penyebab : Benturan benda tumpul dengan kepala

Klasifikasi :
1. Cedera kepala sederhana
2. Patah tulang tengkorak
3. Cedera otak (dapat disertai patah tulang tengkorak)


• CEDERA SPINAL :
Semua cedera yang berhubungan dengan tulang belakang, mulai dari tulang leher sampai tulang ekor termasuk persyarafan didalamnya.

Penyebab :
1. Benturan benda tumpul pada daerah tulang belakang
2. Jatuh dari ketinggian
3. Kecelakaan lalu lintas, dll.


• CEDERA LEHER :
- Leher memiliki banyak jaringan yang mudah mengalami cedera
- Luka terbuka yang besar pada leher dapat mengakibatkan masuknya udara dalam peredarah darah (emboli udara)
- Emboli udara dapat mengakibatkan sumbatan yang dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke
- Luka tertutup sama berbahayanya karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan emboli udara
- Setiap cedera leher harus dianggap serius sampai terbukti aman difasilitas kesehatan


• CEDERA DADA :
- Sering disertai dengan terjadinya cedera pada jantung
- Apapun jenis cedera dada pada dasarnya semua akan mengarah kepada gangguan system pernafasan yang dapat berakibat fatal

Klasifikasi :
1. Cedera dada tertutup
2. Cedera dada terbuka

Faktor Penyulit :
1. Rongga dada kemasukan udara bebas (pneumotoraks)
2. Rongga dada kemasukan darah (hemotoraks)
3. Gabungan keduanya



BAB IX
LUKA BAKAR


Pengertian :
Semua cedera yang yang terjadi akibat paparan terhadap suhu yang tinggi

Penyebab :
1. Thermal (suhu lebih dari 600C), ex : api, uap panas, benda panas
2. Kimia (asam/basa kuat), ex : asam kuat, basa kuat, soda api
3. Listrik, ex : listrik rumah tangga, kilat
4. Radiasi, ex : sinar matahari (sinar ultraviolet), bahan radio aktif

Penggolongan :
1. Luka bakar derajat satu (permukaan)
2. Luka bakar derajat dua (sedikit lebih dalam)
3. Luka bakar derajat tiga

Penanganan :
1. Hentikan proses luka bakarnya, bila ada bahan kimia alirkan terus selama 20 menit atau lebih
2. Lepaskan pakaian atau perhiasan, bila melekat gunting disekitarnya jangan memaksa untuk melepaskan bagian yang melekat
3. Lakukan penilaian dini
4. Tentukan derajat luka bakar
5. Tutup luka bakar, jangan gunakan lemak, salep, cairan, antiseptic atau es
6. Jaga suhu tubuh penderita, rawat cedera lain bila perlu
7. Rujuk ke fasilitas kesehatan


BAB X
PEMINDAHAN PENDERITA


Prinsip Dasar Memindahkan Penderita :
1. Jangan dilakukan jika tidak mutlak diperlukan
2. Lakukan sesuai dengan teknik yang baik dan benar
3. Kondisi fisik penolong harus baik dan terlatih

Pemindahan Darurat :
1. Tarikan lengan
2. Tarikan bahu
3. Tarikan baju
4. Tarikan selimut
5. Menjulang

Pemindahan Biasa/tidak darurat :
1. Teknik angkatan langsung
2. Teknik angkat anggota gerak


BAB XI
KEDARURATAN MEDIS


Gejala Kedaruratan Medis :
1. Demam
2. Nyeri
3. Mual & Muntah
4. Buang air kecil berlebihan atau tidak sama sekali
5. Pusing, merasa akan pingsan, merasa akan kiamat
6. Sesak atau merasa sukar bernafas
7. Rasa haus dan lapar yang berlebihan

Tanda Kedaruratan Medis :
1. Perubahan status mental
2. Perubahan irama jantung
3. Perubahan pernafasan
4. Perubahan keadaan kulit
5. Perubahan tekanan darah
6. Manik mata
7. Bau khas dari mulut atau hidung
8. Aktifitas otot tidak normal
9. Gangguan saluran cerna
10. Tanda-tanda lainnya yang seharusnya tidak ada

Kedaruratan Medis umumnya disebabkan oleh :
1. Gangguan jantung dan pernafasan
2. Gangguan kesadaran atau perubahan status mental
3. Gangguan akibat perubahan lingkungan
4. Keracunan
5. Lain-lain


• AYAN / EPILEPSI
Kekakuan tubuh dan anggota gerak untuk beberapa saat yang disertai kejang dan diikuti hilangnya kesadaran

Gejala & Tanda :
1. Pandangan penderita mendadak kosong, merasa mendengar atau melihat sesuatu
2. Teriakan tercekik
3. Jatuh tiba-tiba, berbaring kaku sesaat, punggung melengkung
4. Wajah dan leher kebiruan dan sembab
5. Gerakan kejang otot
6. Tidak ada respon
7. Mulut berbuih, kadang berdarah
8. mungkin lidah tergigit
9. Mungkin hilang kendali kemih dan pencernaan, penderita mengalami BAB dan BAK spontan
10. Penderita kembali sadar dalam waktu yang tidak lama tapi bingung atau tidak menyadari apa yang terjadi
11. Setelah kejang, penderita kelelahan dan tidur






Penatalaksanaan :
1. Lindungi penderita dari cedera
2. Jangan menahan atau melawan kejang
3. Lindungi lidah penderita dari tergigit
4. Posisikan stabil segera
5. Rawat cedera akibat kejang
6. Bila serangan telah berlalu, penderita tertidur, lakukan :
a. Jagalah jalan nafas agar tidak tersumbat
b. Biarkan istirahat
c. Hindari penderita dari ketegangan dan rasa malu sekitar

• PINGSAN ( SYNCOPE / COLLAPSE )
Terjadi karena peredaran darah ke otak berkurang, yang dapat terjadi karena emosi yang hebat, berada dalam ruangan sesak tanpa udara segar yang cukup, letih dan lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

Gejala dan Tanda :
1. Perasaan limbung
2. Pandangan berkunang-kunang dan pendengaran berdenging
3. Lemas, keluar keringat dingin
4. Menguap
5. Dapat menjadi tidak ada respon yang biasanya terjadi hanya beberapa menit
6. Denyut nadi lambat

Penatalaksanaan :
1. Baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan
2. Longgarkan pakaian
3. Usahakan penderita menghirup udara segar
4. Periksa cedera lainnya
5. Beri selimut agar badannya hangat
6. Bila pulih, usahakan istirahatkan beberapa menit
7. Bila tidak cepat pulih, maka :
a. Periksa nafas dan nadi
b. Posisikan stabil
c. Bawa ke RS/dokter/Puskesmas

• PAPARAN PANAS
1. Kejang Panas
- Kejang disertai nyeri pada otot saat melakukan kegiatan fisik (otot tungkai & perut)
- Kehilangan cairan dan elektrolit melalui keringat
- Penderita umumnya sadar dan berkeringat, suhu tubuh normal

Gejala dan Tanda :
1. Kejang pada otot yang disertai nyeri
2. Kelelahan
3. Mual
4. Mungkin pingsan

Penatalaksanaan :
1. Pindahkan penderita ke tempat teduh/aman
2. Baringkan sampai kejangnya hilang
3. Beri minum pada penderita, bila ada cairan oralit atau sejenisnya
4. Bila tidak ada maka dapat diberikan air dicampur sedikit garam dan gula
5. Jangan membuang waktu untuk mencari garam
6. Rujuk ke fasilitas kesehatan, terutama bila kejang tidak berhenti

2. Kelelahan Panas
- Kondisi yang tidak fit pada saat melakukan aktifitas di lingkungan yang suhu udaranya relatif tinggi, yang mengakibatkan terganggunya aliran darah
- Kehilangan cairan dan elektrolit melalui keringat
- Sistem sirkulasi terganggu
- Bila tidak segera diatasi, kelelahan panas bias menjadi sengatan panas

Gejala dan Tanda :
1. Pernafasan cepat & dangkal
2. Nadi lemah
3. Kulit terapa dingin, keriput, lembab dan selaput lender pucat
4. Pucat, keringat berlebihan
5. Lemah
6. Pusing, kadang penurunan respons
7. Lidah kering dan haus

Penatalaksanaan :
1. Baringkan penderita ditempat yang teduh
2. Kendorkan pakaian yang mengikat
3. Tinggikan tungkai penderita 20-30 cm
4. Beri oksigen bila ada
5. Beri minum bila penderita sadar
6. Rujuk ke fasilitas kesehatan

3. Sengatan Panas
- Merupakan keadaan yang mengancam nyawa
- Sistem pengaturan suhu tubuh gagal
- Penderita sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan kelebihan panas, sehingga suhu tubuh menjadi tinggi dan berbahaya bagi keselamatan penderita
- Penderita tidak lagi berkeringat
- Bila tidak segera diatas maka sel otak akan segera mati
- Biasanya terjadi akibat aktivitas fisik yang berlebihan ditempat bersuhu tinggi atau ditempat yang kelembaban dan ventilasinya kurang baik

Gejala dan Tanda :
1. Pernafasan cepat dan dalam
2. Nadi cepat dan kuat diikuti nadi cepat tetapi lemah
3. Kulit teraba kering, panas kadang kemerahan
4. Manik mata melebar
5. Kehilangan kesadaran
6. Kejang umum atau gemetar pada otot

Penatalaksanaan :
1. Turunkan suhu tubuh penderita secepat mungkin
2. Letakkan kantung es pada ketiak, lipatan paha, dibelakang lutut dan sekitar mata kaki serta disamping leher
3. Bila mungkin, masukkan penderita kedalam bak berisi air dingin dan tambahkan es kedalamnya
4. Rujuk ke fasilitas kesehatan







• PAPARAN DINGIN ( HIPOTERMIA )
- Suhu tubuh menurun < 350C
- Respons tubuh gemetar
- Suhu tidak perlu sangat dingin untuk mencetuskan hipotermia
- Jangan berpendapat bahwa didaerah tropis tidak mungkin terjadi hipotermia
- Dapat terjadi akibat penderita berada dialam terbuka untuk waktu yang cukup lama
- Keadaan yang memperburuk hipotermia yaitu suhu rendah, factor angina, air, usia, kesehatan, penyakit yang sudah diderita atau cedera yang terjadi, alcohol dan penyalahgunaan obat, dan kekurangan makanan

Gejala dan Tanda Hipotermia Sedang :
1. Menggiigil
2. Terasa melayang
3. Pernafasan cepat, nadi lambat
4. Gangguan pengelihatan
5. Reaksi mata lambat
6. Gemetar

Gejala dan Tanda Hipotermia Berat :
1. Pernafasan sangat lambat
2. Denyut nadi sangat lambat
3. Tidak ada respon
4. Manik mata melebar dan tidak ada reaksi
5. Alat gerak kaku
6. Tidak menggigil

Penatalaksanaan :
1. Penilaian dini dan pemeriksaan penderita
2. Pindahkan penderita dari lingkungan dingin
3. Jaga jalan nafas dan beri oksigen bila ada
4. Ganti pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetap kering
5. Bila penderita sadar dapat diberikan minuman hangat secara pelan-pelan
6. Pantau tanda vital secara berkala
7. Rujuk ke fasilitas kesehatan



BAB XII
K E R A C U N A N


Pengertian :
Racun adalah zat yang bila masuk kedalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian.

Berdasarkan jalur masuknya racun kedalam tubuh, racun terbagi menjadi :
1. Keracunan melalui mulut/alat pencernaan
2. Keracunan melalui pernafasan
3. Keracunan melalui kontak atau penyerapan (kulit)
4. Keracunan melalui suntikan/gigitan

Gejala Umum Keracunan :
1. Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan
2. Penurunan respon, gangguan status mental
3. Gangguan pernafasan
4. Nyeri kepala, pusing, gangguan pengelihatan
5. Mual, muntah
6. Lemas, lumpuh, kesemutan
7. Pucat atau sianosis
8. Kejang-kejang
9. Syok
10. Gangguan irama jantung atau peredaran darah pada zat tertentu

Gejala Khas :
a. Keracunan melalui mulut :
1. Mual, muntah
2. Nyeri perut
3. Diare
4. Nafas/mulut berbau
5. Suara parau, nyeri di saluran cerna
6. Luka bakar pada daerah mulut atau sisa racun didaerah mulut
7. Produksi liur berlebihan
b. Keracunan melalui pernafasan :
1. Gangguan pernafasan dan sesak nafas
2. Kulit sianosis
3. Nafas berbau
4. Batuk, suara parau
c. Keracunan melalui kulit :
1. Reaksi kulit : daerah kontak kemerahan, nyeri, melepuh dan meluas
2. Syok anafilaktik
d. Keracunan melalui suntikan/gigitan :
1. Luka di daerah suntikan/gigitan, umumnya berupa luka tusuk & bekas gigitan
2. Nyeri pada gigitan atau disekitarnya
3. Kemerahan
4. Perubahan warna (biasanya pada gigitan ular)

Penatalaksanaan :
1. Pengamanan tempat kejadian, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang
2. Pengamanan penderita dan penolong, terutama didaerah gas beracun
3. Keluarkan penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan
4. Penilaian dini, bila perlu RJP
5. Bila racun masuk melalui jalur kontak, maka buka baju penderita dan bersihkan sisa bahan beracun bila ada
6. Awasi jalan nafas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah
7. Beri oksigen bila ada sesuai ketentuan, khususnya pada keracunan melalui udara
8. Bila keracunan terjadi secara kontak maka bilaslah daerah yang terkena dengan air
9. Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan, sebaiknya diamankan untuk diidentifikasi
10. Penatalaksanaan syok bila terjadi
11. Pantau tanda vital secara berkala
12. Bawa ke RS/dokter/Puskesmas


• GIGITAN ULAR

Gejala dan Tanda Umum :
Bila seseorang penderita gigitan ular menunjukkan gejala dan tanda maka berarti keadaannya serius dan perlu penanganan khusus

Beberapa Gejala dan Tanda :
1. Demam
2. Mual dan muntah
3. Pingsan
4. Lemah
5. Nadi cepat dan lemah
6. Kejang
7. Gangguan pernafasan

Tindakan Pertolongan :
1. Amankan diri penolong dan tempat kejadian
2. Tenangkan penderita
3. Lakukan penilaian dini
4. Rawat luka, bila perlu pasang bidai
5. Rujuk ke fasilitas kesehatan


BAB XIII
PERTOLONGAN KORBAN BANYAK ( INCIDENT COMMAND SYSTEM )


• TRIAGE :
Triage dilakukan dengan cara memilah korban secara cepat dan menggolongkan kedalam salah satu dari empat kelompok yang ada, yaitu :
- Prioritas 1, Prioritas Tertinggi, diberikan kepada korban yang berada dalam keadaan kritis seperti gangguan pernafasan, perdarahan yang belum terkendali/perdarahan besar, penurunan status mental (respons)
- Prioritas 2, Prioritas Kedua, yaitu mereka yang perlu pertolongan, misalnya luka bakar, gangguan saluran nafas, nyeri hebat setempat, termasuk bengkak atau perubahan bentuk dan cedera punggung
- Prioritas 3, Prioritas Terendah, dapat ditunda karena cedera relatif ringan, tidak perlu banyak dibantu, dapat menunggu pertolongan tanpa menjadi lebih parah
- Prioritas 0, atau Prioritas Keempat, mereka yang mengalami cedera mematikan atau sudah meninggal

Dakwah Sebagai Proses Sosialisasi Nilai-Nilai Islam

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb.
Puji dan syukur dengan hati dan pikiran yang tulus dipanjatkankehadirat Allah SWT.,karena berkat ni’kmat, ma’unah, dan hidayah-NYA, makalah atau tugas kelompok ini dapat terselesaikan untuk memenuhi tugas Ilmu Dakwah.
Shalawat dan salam dihaturkan pada nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang setia mengorbankan jiwa raga dan lainnya untuk tegaknya Syi’ar islam, yang pengaruh dan manfaatnya hingga kini masih terasa.
Terima kasih kepada dosen Ilmu Dakwah yang telah membantu saya dalam pembuatan makalah ini.Terima kasih kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu hingga terwujudnya makalah ini.
Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan agar dalam pembuatan makalah-makalah selanjutnya tidak terjadi kesalahan seperti yang terdapat dalam makalah ini.

Wassalamua’alaikum wr.wb.

Jakarta,06 -11-2009

(penulis)






BAB I
PENDAHULUAN


Kita pahami bersama bahwa dakwah merupakan aktivitas mulia, dimana Allah SWT. telah berjanji kepada para pengembannya dengan janji yang benar dan pasti; akan mengaruniakan kemuliaan, pahala yang tiada terputus, pertolongan, kemenangan dan surga.
Dakwah merupakan aktivitas penting, karena dakwah merupakan aktivitas penyadaran umat yang akan menggiring manusia kepada penyembahan hanya kepada Allah, membersihkan jiwa manusia dan membebaskannya dari belenggu syahwat. dakwah merupakan sebuah proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang mentransformasi individu, kelompok juga masyarakat menuju kehidupan Islam.
Dengan demikian dakwah memiliki dua peran yang saling terkait, yaitu dakwah sebagai proses komunikasi dan proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang juga merupakan proses perubahan sosial.
















BAB II
PEMBAHASAN

Dakwah Sebagai Proses Sosialisasi Nilai-Nilai Islam

Kita pahami bersama bahwa dakwah merupakan aktivitas mulia, dimana Allah SWT. telah berjanji kepada para pengembannya dengan janji yang benar dan pasti; akan mengaruniakan kemuliaan, pahala yang tiada terputus, pertolongan, kemenangan dan surga. Allah SWT pun telah memberikan gelar khoiru ummah (umat terbaik) atas kaum Muslim disebabkan aktivitas dakwah yang mereka lakukan. Allah Swt. berfirman:
“Kamu sekalian adalah sebaik-baik ummat (khairu ummah) yang diturunkan kepada manusia, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Qs. Ali Imran 110).
Dakwah juga merupakan aktivitas penting, karena dakwah merupakan aktivitas penyadaran umat yang akan menggiring manusia kepada penyembahan hanya kepada Allah, membersihkan jiwa manusia dan membebaskannya dari belenggu syahwat. Lebih dari itu, dakwah merupakan sebuah proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang mentransformasi individu, kelompok juga masyarakat menuju kehidupan Islam. Tegak tidaknya Islam ditentukan dengan tegak tidaknya dakwah Islam.
Salah satunya dengan model dakwah transformatif, yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (konvensional) untuk memberikan materi-materi keagamaan kepada masyarakat, yang memposisikan da’i sebagai penyebar pesan-pesab keagamaan, tetapi menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat dengan cara melakukan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian, dakwah tidak hanya untuk memperkukuh aspek relijiusitas masyarakat, melainkan juga memperkukuh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial.
Maka, sangatlah wajar apabila Allah Swt akan memberikan kemuliaan dan pahala yang terus mengalir kepada para pengemban dakwah yang telah mencurahkan segala daya dan upayanya dalam perjuangan dakwah. Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa membuat (menganjurkan dan mengamalkan) kebaikan dalam Islam maka ia akan mendapat pahala serta tambahan pahala dari orang yang mengikuti (ajarannya itu) tanpa sedikitpun mengurangi ganjaran orang itu. Dan barang siapa membuat (menganjurkan dan mengamalkan) keburukan, maka ia akan mendapat dosa serta tambahan dosa dari orang yang mengikuti (ajaran itu) tanpa sedikitpun mengurangi dosa orang itu.” (HR. Muslim).

Dakwah Sebagai Proses Komunikasi dan Sosialisasi
Sebenarnya dakwah itu sendiri adalah komunikasi, dakwah tanpa komunikasi tidak akan mampu berjalan menuju target-target yang diinginkan, demikian juga komunikasi tanpa dakwah akan kehilangan nilai-nilai Ilahi dalam kehidupan. Maka dari sekian banyak definisi dakwah ada sebuah definisi yang menyatakan, bahwa dakwah adalah proses komunikasi efektif dan kontinyu, bersifat umum dan rasional, dengan menggunakan cara-cara ilmiah dan sarana yang efesien, dalam mencapai tujuan-tujuannya.
Definisi tersebut menegaskan peran dakwah dalam berkomunikasi dengan orang banyak melalui media-media tertentu. Upaya tablig (menyampaikan) Islam kepada masyarkat adalah salah satu media komunikasi dakwah yang digunakan Rasulullah saw dengan pesan berantai : “…Maka hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang absen” (al-hadits).
Dengan demikian dakwah memiliki dua peran yang saling terkait, yaitu dakwah sebagai proses komunikasi dan proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang juga merupakan proses perubahan sosial. Peran tersebut memiliki fungsi mengupayakan perubahan nilai dalam masyarakat sesuai dengan tujuan-tujuan dakwah Islam, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas informasi keislaman kepada umat, sehingga wawasan keislaman semakin luas dan terasa nikmat dan kerahmatannya dalam kehidupan berbangsa, dengan harapan terwujudnya kesadaran umat dalam mengekspresikan diri sebagai muslim dan mengaktualisasikan keislamannya
Seorang Da’i haruslah mensosialisasikan nilai-nilai Islam pada mad’u-nya, sehingga ajaran Islam dengan sukarela dapat diamalkan dalam setiap sendi kehidupan manusia yang sesuai dengan tujuan dakwah Islam. Sebab dakwah pada hakikatnya adalah aktualisasi imani yang dimanifestasikan dalam suatu sistem kegiatan manusia beriman, dalam bidang kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur, untuk mempengaruhi cara merasa, berfikir, bersikap dan bertindak manusia.

Masjid Pusat Kegiatan Masyarakat
Kegiatan dakwah dalam rangka mensosialisasikan nilai-nilai Islam dapat dilakukan di berbagai macam tempat. Masjid adalah salah satu tempat yang paling efektif dalam rangka mensosialisasikan nilai-nilai Islam. Karena masjid adalah pusat kegiatan masyarakat dan juga menjadi pusat kesatuan sosial. Orang berdatangan ke masjid di samping untuk beribadah, juga untuk kegiatan kemasyarakatan. Mereka juga datang ke masjid untuk bermusyawarah bagi kemaslahatan umat. Di masjid pula khatib memberikan penerangan, bimbingan, petunjuk, dan fatwa dalam menghadapi dan menjawab permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari dalam bermasyarakat. Nabi SAW menjadikan masjid sebagai lembaga musyawarah.
Sesungguhnya masjid adalah tempat yang multi fungsi. Berbagai macam kegiatan dapat dilakukan di masjid, mulai dari urusan keagamaan sampai urusan politik. Khalifah Abu Bakar mempergunakan ruang depan masjid untuk mengerjakan administrasi negara, Nabi sendiri menerima delegasi-delegasi yang bukan muslim di dalam masjid.

Bentuk Sosialisasi Nilai-Nilai Islam
Setiap bentuk kegiatan yang dilakukan di masjid sesungguhnya merupakan upaya untuk mensosialisasikan nilai-nilai Islam. Sosialisasi nilai-nilai Islam dapat dimasukkan dalam setiap sendi kehidupan manusia, di antaranya:
1. Sendi ekonomi. Da’i dapat memberi petunjuk kepada masyarakat agar mengazaskan praktek ekonomi pada Alquran dan hadist. Segi-segi ekonomi itu misalnya: jual-beli yang halal, riba dalam berdagang, jujur dalam timbangan, pembagian kekayaan, distribusi ekonomi, meminjamkan modal, dan lainnya. . Alquran menyebutkan “Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba ”. Dalam hadist juga diterangkan “Pedagang yang jujur berada dalam naungan ‘Arasy pada hari kiamat.”(HR. Baihaqi)
2. Sendi politik. Pada zaman Nabi SAW, Khalifah di suatu daerah diangkat menjadi gubernur sekaligus ditunjuk menjadi imam masjid. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya harus cakap dalam mengurus rakyatnya, tapi juga ia harus berpegang teguh pada ajaran Islam. Bayangkan jika seluruh pemimpin kita menamalkan ajaran Islam, niscaya tidak akan pernah kita mendengar berita pejabat korupsi atau menerima suap. Nabi SAW bersabda “Orang yang menyuap dan orang yang menerima suap sama-sama masuk neraka”.
3. Segi pendidikan. Sosialisasi nilai Islam dalam bidang pendidikan sangat jelas terlihat. Kita banyak menemukan masjid yang memiliki fasilitas perpustakaan, mengadakan pengajian agama, pengajaran masyarakat, dan sebagainya. Ketika masjid sudah tidak dapat menampung perkembangan pengajaran umat, dibangunlah madrasah yang melanjutkan fungsi masjid, misalnya Abdul Rahman III yang menempatkan Universitas Cordoba di Masjid Cordoba. Nabi SAW bersabda “Tak seorang pun keluar dari rumahnya untuk mencari ilmu, melainkan malaikat membentangkan sayap-sayapnya karena sangat senang pada apa yang dilakukannya”.
4. Segi kesehatan. Ajaran Islam amat menyeluruh dalam kehidupan manusia, tak terkecuali masalah kesehatan. Islam melarang umatnya untuk memakan makanan haram, seperti darah, bangkai, daging babi dan anjing, hewan yang mati karena terjatuh, tercekik, dll. Larangan-larangan tersebut semata-mata bertujuan menghindarkan manusia dari berbagai macam penyakit berbahaya.
5. Segi Kesenian. Sosialisasi islam dalam kesenian sangat erat kaitannya dengan arsitektur masjid yang dibangun dengan indah dan dilengkapi kaligrafi yang bertuliskan asma Allah, ayat Alquran yang dilagukan dengan seni suara, azan dikumandangkan dengan suara yang merdu, orang diserukan datang ke masjid dengan pakaian yang indah.
Demikianlah dapat kita rasakan betapa rahmat Allah selalu menyertai kita. Islam dengan ajarannya yang luwes dapat menjawab semua tantangan zaman.

Spiritualitas dan Penggalian Makna Sosial
Peristiwa-peristiwa spiritual pada masa nabi dapat juga kita gali dari sisi makna sosialnya. Sebagai contoh:
1. Isra Mikraj: Perjalanan Ruhani dan Inspirasi Peradaban Manusia.
Ada sejumlah peristiwa yang bisa disebutkan disini, pertama, sebelum melakukan perjalanan Isra Mikraj, oleh Jibril dada Rasulullah dibelah dan dicuci bersih, dalam waktu singkat, tanpa Rasulullah merasakan sakit sedikitpun. Hal semacam itu pada 1400 tahun yang lalu tak dapat dijangkau akal masyarakat. Peristiwa ini merangsang umat manusia untuk mempelajari anatomi tubuh secara teliti dan mendalam. Dan akhirnya, sekarang, operasi bedah sudah bisa dilakukan. Kedua, Rasulullah melakukan perjalanan dari Mekah ke Yerusalem, kemudian naik ke langit, dan kembali lagi ke Mekkah sebelum fajar tiba. Jika di dalami sisi lain, sesungguhnya peristiwa ini menyimpan makna bahwa umat manusia harus menemukan sebuah teknologi transportasi yang memiliki kecepatan tinggi.
2. Nuzulul Quran dan Pesan Perdamaian Islam.
Pesan utama yang diisyaratkan Allah dalam peristiwa tersebut antara lain: Pertama, malam nuzulul quran yang berada pada bulan Ramadhan memang mengemban misi penempaan totalitas kepatuhan seorang hamba di bawah kebiasaan dan aturan main Tuhannya. Maka tidak heran jika kemudian Allah menjadikan ritual puasa pada bulan Ramadhan sebagai bentuk dari penempaan totalitas kepatuhan. Kedua, Allah secara dramatis menggambarkan bahwa nilai kebajikan pada malam itu jauh melebihi kebajikan yang dilakukan selama “seribu bulan”. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa setelah seorang hamba sampai pada totalitas kepatuhan kepada Tuhannya, maka tugas kehambaan selanjutnya adalah bagaimana ia bisa menyebarkan rahmatdan kedamaian di muka bumi.
3. Idul Fitri dan Kesucian Jiwa.
Penyucian jiwa itu berlangsung dalam dua wilayah sekaligus: wilayah hubungan dengan Allah dan wilayah hubungan dengan manusia. Puasa merupakan ibadah yang diorientasikan hanya kepada Allah dan zakat fitrah sebagai wujud penyucian dalam hubungan dengan manusia.
4. Haji dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal
Ibadah haji merupakan wahana bagi seorang muslim untuk merealisasikan prinsip-prinsip nilai-nilai universal kemanusiaan yang dibawa oleh Islam. Dalam ibadah haji, terlilhat jelas muatan dan makna nilai persatuan (al-wahidah), persamaan (al-musawwah) dan perdamaian (as-salam).


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah bahwa dakwah adalah aktivitas mulia, dimana Allah SWT. telah berjanji kepada para pengembannya dengan janji yang benar dan pasti; akan mengaruniakan kemuliaan, pahala yang tiada terputus, pertolongan, kemenangan dan surga. dakwah juga merupakan aktivitas penyadaran umat yang akan menggiring manusia kepada penyembahan hanya kepada Allah, membersihkan jiwa manusia dan membebaskannya dari belenggu syahwat. Lebih dari itu, dakwah merupakan sebuah proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang mentransformasi individu, kelompok juga masyarakat menuju kehidupan Islam. Dengan demikian dakwah memiliki dua peran yang saling terkait, yaitu dakwah sebagai proses komunikasi dan proses sosialisasi nilai-nilai Islam yang juga merupakan proses perubahan sosial.
masjid sebagai tepat beribadah juga dipergunakan sebagai pusat kegiatan masyarakat dan juga menjadi pusat kesatuan sosial.berbagai macam kegiatan dapat dilakukan di masjid mulai dari urusan keagamaan sampai urusan politik, Di masjid pula khatib memberikan penerangan, bimbingan, petunjuk, dan fatwa dalam menghadapi dan menjawab permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari dalam bermasyarakat.












DAFTAR PUSTAKA

Gazalba, Sidi, Masyarakat Islam, Pengantar Sosiologi dan Sosiografi,

Hafidz, Abdullah Cholis, dkk, Dakwah Transformatif, Jakarta, PP LAKPESDAM NU, 2006.
Najieh Ahmad, Hadist dan Syair untuk Bekal Dakwah,

http://www.ikadi.org/artikel/fiqhdakwah/peran-dakwah-komunikasi-dan-perubahan.